Jumat, 18 September 2015

Start Your Green Business (SYGB) - ILO

Mulailah Usaha Berwawasan Lingkungan 
Program Wirausaha Berwawasan Lingkungan (Indonesia Green Enterpreneurship Program, IGEP) 
Majesty Hotel Bandung


 
 

Profit - Planet - Poeple

















Read More......

Senin, 10 Agustus 2015

BSF Solusi Jitu Alami Untuk Persoalan Sampah Organik

Keunggulan :
  1.  Teknologi alami/natural tanpa efek samping
  2. Murah dan benefit able (poc, pakan ternak dan kompos)
  3. Sampah Organik terurai dalam satu malam, tinggal hitung berapa banyak sampah yang akan diurai dikerjakan oleh "Mesin" magot.
  4. Tanpa bau tidak sedap
  5. Lahan tidak terlalu besar.


Read More......

Minggu, 09 November 2014

Kebun Al Qur'an - Permaculture Dalam Sistem Pengelolaan Sampah Terpadu

Delapan Lapis Tanaman






Read More......

Jumat, 07 November 2014

PROSES PEMBUATAN PAKAN TERNAK DARI SAMPAH ORGANIK

Proses ini seharusnya bisa dalam waktu 1 hari selesai ; pengamatan dalam riset kami :

  1. PENCACAHAN 1 TON, membutuhkan waktu kurang dari 1 jam (tergantung kapasitas mesin),
  2. PEMERASAN 1 TON, membutuhkan waktu 5 jam (tergantung kapasitas mesin)
  3. HASIL PERASAN 30% (300KG) PADAT dan 50% (500KG) CAIR.
  4. PENGERINGAN, referensi yang kami dapat dengan tanpa pencacahan dan pemerasan 6-9jam dengan suhu 60-70'c ; jika proses cacah dan peras angkanya linear maka seharusnya cukup 2-3 jam saja (proses pengeringan).
  5. PEMANAS, menggunakan panas bio gas. 

Read More......

Jumat, 31 Oktober 2014

Tindak Lanjut Proyek PLTSa


Tanggal 30 oktober 2014 Pemkot Bandung mengundang Hangzhou Boiler Group Co,Ltd dari Cina dan Pt.Bril untuk menjelaskan detail tekhnis PLTSa – yang rencananya akan dibangun di wilayah Kecamatan Gedebage – Bandung. Walikota membuka forum hari ini dengan mengatakan : 1. Forum hari ini adalah untuk mendengarkan dan bertanya, karena banyak hal yang beliau sendiri tidak mengetahui tentang PLTSa ini. 2. Pesan agama : agar menyerahkan segala sesuatu kepada ahlinya agar tidak binasa. 3. Upaya Walikota telah membuat dan menyebarkan biodegester untuk mengurangi timbulan sampah di TPS dan TPA. 4. November ini akan disahkan PERDA pelanggaran buang sampah sembarangan yang dendanya antara Rp 250rb –Rp 50jt.

Presentasi dari PT.HBG sangat panjang dan detail dan tekhnologinya cukup canggih sepertinya, diantara presentasi yang disajikan adalah kelemahan metode landfill dan composting – pastinya keunggulan metode Incinerator sebagai produknya. Kemudian presentasi nilai ekonomi dipaparkan oleh Tim dari UNPAD yang menjelaskan analisis ekonomi tentang PLTSa. Namanya juga jualan analisis ini pun menguntungkan dengan banyak catatan, diantaranya : Tiping Fee harus terus naik dan agar disesuaikan dengan Tiping Fee Internasional, gambarannya Tiping Fee Rp 328rb/Ton dan terus naik hingga Rp 600rb/Ton. Secara umum PLTSa Kota Bandung memerlukan Modal Awal (CAPEX) lebih dari Rp 1 triliyun, belum termasuk pengadaan truk pengangkut yang masih kurang 48 buah. Biaya operasional dari PLTSa Rp 46,65 milyar per tahun (belum termasuk biaya operasional PD.KEBERSIHAN).

Penjelasan dari TIM UNPAD untuk menghasilkan 14 mega watt listrik membutuhkan biaya US $ 10JUTA. APBD Kota Bandung Rp 4 triliyun dan biaya pembangunan PLTSa adalah 22% nya, tidak termasuk biaya operasional PLTSa dan PD.KEBERSIHAN.  

Tibalah saatnya Tanya jawab dibuka ; dimulai oleh Muhammad Tabroni yang cukup terkenal dengan penolakkannya terhadap PLTSa bersama-sama warga Griya Cempaka Arum dan warga Kota Bandung lainnya. M. Tabroni mempertanyakan mengenai harga “social” masyarakat yang besar kemungkinan akan dirugikan oleh proyek ini dan mengharapkan Walikota Bandung mau mendatangi warga GCA dan lainnya yang menolak PLTSa untuk memberi ruang dialog yang  terbuka.

Penanya kedua adalah Arifin – warga Kelurahan Rancanumpang, beliau khawatir terhadap gas buang PLTSa dan tindakan hukum apa jika apa-apa yang dipresentasikan jauh pada kenyataannya? Sudahkan emisi gas buangnya dilakukan tes terhadap hewan? Karena kemampuan PLTSa hanya 700ton per hari sedangkan sampah Kota Bandung 1500ton per hari, maka dapat dipastikan 60% PLTSa bukan solusi.

Di sela-sela dua pertanyaan ini Walikota langsung merespon dan menjawab pertanyaan tersebut : 1. Karena ketidak tahuan saya dan kita semua inilah, maka saya mengundang PT.HBG dan PT.BRIL untuk memberikan penjelasan mengenai tekhnologi yang mereka tawarkan dan mendapatkan ilmu. 2. Mengenai harga social dan dialog dengan warga GCA dan lainnya yang menolak PLTSa, tentu menjadi pertimbangan dalam memutuskan, dan saya akan datang ke GCA untuk dialog dengan warga.

Ibu Neti dari Rancanumpang juga mempertanyakan mengenai manfaat dan mudharatnya PLTSa, dan meminta penjelasan mengenai kecelakaan yang menelan korban dari PLTSa di Cina. Kemudian disusul oleh Ibu Ratna yang mempertanyakan mengenai proses pengangkutan yang kemungkinan besar akan terjadi antrian panjang truk sampah yang pasti menimbulkan bau dan kotor. Kemudian apakah tekhnologi yang katakanlah berhasil di Cina ini akan mudah beradaptasi dengan lingkungan di Indonesia dan Bandung khususnya.

Dua Presentasi mengenai hal-hal tekhnis dan simulasi laba-rugi direspon oleh Prof.Enri Damanhuri dengan 12 pertanyaan :
1.       Bau di PLTSa mungkin tidak muncul, tapi bagaimana dengan bau dari antrian truk? Sebaiknya pengankutan disesuaikan agar kompatibel dengan PLTSa.
2.       Inti dari tekhnologi yang dipaparkan adalah “SISTEM STOKER(martin stoker)”, kapan system stoker ini dibangun? Apakah mampu melayani sampah Kota Bandung yang mayoritas organic dan memiliki tingkat kebasahan yang tinggi? Apakah tahan lama? Jangan sampai hal ini menjadi factor cost tambahan dan nilainya tidak kecil – karena harus ganti spare part.
3.       Pengelolaan Leachead itu mahal, saya tidak melihat hal ini menjadi factor cost dari simulasi bisnis tadi, lagi-lagi jangan sampai ini menjadi “add cost” yang tak terduga.
4.       Pendinginan, saya berharap pendinginan bisa dilakukan dengan menggunakan angin/udara sehingga murah dan tidak berefek besar, jika menggunakan air maka yang dibutuhkan adalah 20.000 liter per detik – itu sama dengan kebutuhan warga Kota Bandung. Sumber air dari mana? Dan berapa biayanya?
5.       Bottom ash dan Fly ash adalah limbah B3, Bottom ash dan Fly Ash sampah lebih jelek dari Bottom ash dan Fly Ash batubara, biaya pengelolaan limbah B3 per tonnya mencapai US $ 400, harap dipertimbangkan baik dari dampak lingkungan dan keekonomian. Kemudian Bottom ash dan Fly ash dari sampah tidak selalu diterima oleh pabrik semen karena tingkan kelembabannya yang tinggi.
6.       Silofication (penampung debu terbang) yang saya dengan dari presentasi tadi membutuhkan bahan kimia 1,5 ton /hari, costnya besar dan perlu dipertimbangkan.
7.        Gas buang bisa jadi tidak ada dioksin tapi yang terbawa oleh Flying Ash dan Bottom Ash dapat dipastikan terdapat dioksin dan logam berat.
8.       Flue Gas Treatment (penanganan gas buang) dijelaskan membutuhkan 2000 ton kapur per tahun, Berapa cost nya? Belum lagi 40 ton karbon aktif, 100 ton amoniak. Semua ini adalah komponen cost, Tim Unpad harap memasukkan komponen ini dan mampukah kita?
9.       Limbah Karbon Aktif adalah limbah yang lebih jelek dari flying ash.
10.   Control Room yang terkoneksi dengan BPLH adalah ide bagus, tapi ini adalah komponen cost, harap diperhatikan.
11.   Karena karakter sampah Kota Bandung yang basah, maka akan dihasilkan listrik yang rendah pula.
12.   Khusus untuk walikota mengenai biodegester yang isinya itu seperti comberan, ini memerlukan treatment khusus juga perlu pertimbangan.



Read More......

Kamis, 16 Oktober 2014

PARADIGMA BARU PERSAMPAHAN 3

PARADIGMA BARU PERSAMPAHAN 3
                Fardu Kifayah adalah status hukum dari sebuah aktivitas dalam Islam yang wajib dilakukan, namun bila sudah dilakukan olehmuslim yang lain maka kewajiban ini gugur. Contoh aktivitas yang tergolong Fardu Kifayah :
·         Menshalati jenazah Muslim
·         Belajar ilmu tertentu (misal: kedokteranekonomi, dll)
·         Amar ma'ruf nahi munkar
·         Jihad ibtida`i
·         Mendirikan Khilafah
·         dll
Suatu perbuatan yang semula hukumnya fardhu kifayah bisa menjadi fardhu 'ain apabila perbuatan dimaksud belum dapat terlaksana dengan hanya mengandalkan sebagian dari kaum muslimin saja.
ALLAH MENCIPTAKAN KESEIMBANGAN ALAM
Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya ; hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.(QS.AL A’raaf(7) ayat 57)
………………dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.. "[TMQ. Al-Hijr (15): 19-21)
Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?(QS.Al Mulk(67) ayat 3)
                Keseimbangan alam adalah kunci keberhasilan dari pengelolaan sampah. Jika sampah organic sudah menumpuk dan sulit ditangani maka jangan tumpuk lagi sampah-sampah baru, buat sampah-sampah itu cukup di suatu tempat dengan pengelolaan, siapkan infrastruktur alam yang mendukung pengelolaan sampah, siapkan kondisi terburuk dari awal.
PELAJARAN DARI TERUNYAN
                Bukan memperlakukan mayatnya tapi pohon harum yang bisa menutupi proses alami penguraian mayat. Sebelum membuat tempat pengelolaan sampah sangat dianjurkan untuk menanam pohon-pohon yang wangi dalam Al Qur’an pohon-pohon ini disebut raihaan.
Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya(raihaan).(QS.Ar Rahman(55) ayat 12)
                Pohon-pohon ini dari yang besar dan mahal sampai yang kecil dan murah tersedia di Bumi kita, contoh : pohon gaharu, cendana, cengkeh, pala, kapur barus dll. Untuk skala kecil bisa melati, kenanga, lavender, pandan dll.
                Pohon-pohon tersebut di atas selain bisa menutupi bau tidak sedap pada awalnya bisa sangat menyegarkan baik wangi dan pemandangannya. Khusus untuk pengelolaan dalam skala besar sangat disarankan untuk melingkupi sekeliling tempat pengelolaan dengan kebun pohon wangi dan mengaplikasikan lapisan-lapisan tanaman yang saling mendukung (compagnon).
                Berikut ini artikel mengenai permaculture atau agroforestry dari Muhaimin Iqbal : Perhatikan apa yang disusun para ahli permaculture atau agroforestry dengan susah payah melalui riset-riset yang panjang, ternyata semuanya sudah ada di ayat-ayat Al-Qur’an diawali dengan petunjuk di ayat berikut :

Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebunkebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain dalam memberi pangan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tandatanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS 13:4)
Setelah dengan susah payah-pun para ahli menyusunnya, mereka masih miss minimal untuk satu jenis buah yang juga disebut buah kehidupan yaitu pisang. Buah yang tidak mengenal musim dan dapat mencukupi hampir seluruh nutrisi yang dibutuhkan manusia ini – harusnya mendapatkan tempat khusus dalam struktur permaculture atau agroforestry design.
Pisang disebut secara khusus di antara buah yang banyak – yang tidak berhenti berbuah dan tidak terlarang mengambilnya ( QS 56 : 29-33), pasti dia memiliki tingkat kepentingan tersendiri. Dan pohon pisang inilah yang juga saya saksikan sendiri ada di antara kurma, anggur, zaitun, delima dan tin di suatu kebun di Gaza – di tempat yang pada umumnya para ahli tidak menduga pisang tumbuh, para ahli mengira pisang adalah tanaman tropis !
Bahkan di hutan tanaman pangan yang berumur 2000 tahun tersebut di atas, pisang adalah juga merupakan salah satu tanaman utamanya – padahal Marocco juga bukan daerah tropis seperti kita.
Dengan membandingkan apa yang dihasilkan para ahli dan petunjuk yang ternyata jauh lebih komplit dan terbukti secara nyata ada di beberapa tempat di permukaan bumi ini, maka semakin jelas kini kebenaran petunjuk itu. Tinggal kita mengikutinya untuk mulai membangun integrasi antara pertanian dan kehutanan kita atau yang secara umum disebut agroforestry ini. Hanya saja berbeda dengan rancangan para ahli permaculture atau agroforestry pada umumnya, kita tidak lagi perlu menduga-duga tanaman-tanaman apa yang cocok untuk saling disandingkan dan unggul dalam sumber makanan itu. Kita tinggal membaca petunjukNya, memahaminya dan tentu saja mengamalkannya di lapangan.
Insyaallah laboratorium lapangan kita untuk ini termasuk greenhouse-nya sudah dalam proses pembangunan dan insyaAllah selesai di bulan Ramadhan, seluruh bibit tanaman-tanamn Al-Qur’an-pun Alhamdulillah telah lengkap kita kumpulkan antara lain juga dibantu para pembaca situs ini. Kini tinggal ikhtiar kita untuk perbanyakannya, agar cukup bibit nantinya bagi masyarakat yang akan menerapkan konsep Kebun-Kebun Al-Qur’an untuk agroforestry ini.  
TEKHNIK PENGELOLAAN SAMPAH
                Semoga penjelasan sebelumnya mampu mengarahkan kita pada visi yang sama dan menuju pada arah serta tujuan yang sama. Karena semua tekhnik berikut tidak memiliki arti tanpa memahami pola-pola keseimbangan alam dan dengan segenap keyakinan mampu menyelesaikan persoalan yang luar biasa besar ini menjadi hal yang sangat mungkin diselesaikan bahkan menjadikan manfaat yang luar biasa besar.
                Jalan awal dari pengelolaan sampah ini adalah klasifikasi bahan, sekurang-kurangnya antara organic dan anorganik, karena tanpa mengkondisikan sampah menjadi dua jenis ini tingkat kesulitan pengelolaan semakin sulit sehingga akan menggelembungkan biaya, meskipun masih mungkin dilakukan.
MANAGEMENT PERSAMPAHAN TERINTEGRASI
                Sosialisasi dan edukasi dengan menggunakan berbagai media dan penyuluhan mutlak harus dilakukan secara kontiniu dan tidak pernah berhenti. Menjadikan trend memisahkan sampah dari awal sehingga menjadi “GAYA HIDUP” patut dilakukan sehingga harapan untuk menjadikan keberkahan dalam pengelolaan dan melibatkan semua elemen yang sudah pasti akan merasakan keberkahan dari kegiatan ini.
                Sortasi di tempat pengelolaan wajib selalu ada meskipun suatu saat masyarakat sudah tersadarkan dan pemisahan sampah sudah menjadi trend. Hal ini untuk memurnikan sampah organic benar-benar terdiri dari bahan-bahan organic.
                Mengklasifikasikan sampah organic menurut jenis memang baik untuk menentukan campuran pada saat pengelolaan sampah organic menjadi pakan ternak, tetapi hal ini adalah hal khusus yang tidak sewajarnya dilakukan pada awal pengelolaan karena sangat tidak efisien.
                Pengelolaan sampah ini pada akhirnya akan memproduksi produk-produk agro baik pertanian maupun peternakan. Untuk sementara ini produk yang terlihat dan mampu dilakukan adalah :
1.       KOMPOS
2.       PUPUK CAIR ORGANIK
3.       PAKAN TERNAK (ruminansia, unggas dan ikan)
Sebaik-baik produksi adalah menguasai hulu hingga hilir factor-faktor produksi, jika target dari produksi adalah agro bisnis maka hilirnya adalah konsumen yang akan mengkonsumsi produk agro. Maka sangat disarankan membuat demplot-demplot agro sesuai dengan produk yang dihasilkan. Selain bisnis pembuatan demplot-demplot tersebut juga akan semakin menyeimbangkan kondisi sekitar pengelolaan sampah, tentu saja dengan bantuan ahli-ahli pertanian dan peternakan.
PEMISAHAN SAMPAH ORGANIK DARI SAMPAH ANORGANIK.
Pemisahan ini sangat penting dan menjadi kunci utama keberhasilan pembuatan pakan, diupayakan jangan sampai ada tercampur bahan-bahan anorganik.
Meskipun tekhnologi bisa mempercepat proses, biaya yang tinggi dan proses yang tidak maksimal tidak mereferensikan mesinisasi dalam proses ini kecuali sebagian saja, misalnya konveyor belt, bak sirkulasi, magnetic short, blowing dan vibrating.
Yang paling maksimal adalah pemisahan dari awal sehingga pada saat proses sudah tidak ada lagi bahan anorganik. Bahan anorganik akan mengurangi mutu dan kualitas pakan.
PENCUCIAN.
Pencucian adalah proses untuk membersihkan bahan sehingga terhindar dari bahan-bahan yang tidak diinginkan, seperti : lumpur, pasir, metal, kimia berbahaya, bahkan plastic.
Ada beberapa keuntungan dengan mencuci bahan diantaranya adalah membersihkan bahan dari berbagai unsure lain yang tidak diperlukan selain itu material yang berat seperti metal akan cenderung tenggelam dan yang ringan seperti plastic akan terapung, hal ini akan menjadikan bahan lebih homogeny (hanya organic tanpa inorganic).
PENCACAHAN BAHAN ORGANIK MENJADI POTONGAN KECIL-KECIL.
Makin kecil potongan makin baik hasilnya, namun dalam kasus tertentu jika terlalu halus bahan akan menyebabkan bahan organic seperti bubur. Sebenarnya proses pembuburan ini sangat baik jika ditunjang dengan alat peras. Namun jika tidak maka bentuk cacahan yang cukup kecil lebih baik.
Pencacahan ini adalah proses yang tujuannya memperkecil volume bahan – sekecil mungkin agar memudahkan dalam proses homogenisasi dan memudahkan dalam proses pembuatan pellet. Namun proses grinder atau penumbukkan dengan batu misalnya akan menjadikan bahan membubur, proses ini harus diteruskan dengan pemerasan, jika tidak akan menyulitkan proses berikutnya atau bahkan menghambat proses.
Maka jika mesin peras tidak ada maka proses chooping atau pencacahan adalah yang terbaik, karena hasilnya potongan kecil-kecil dengan kandungan air yang masih cukup banyak, proses setelah ini cukup membutuhkan penirisan di wadah  berlubang kecil-kecil.
Alat yang disarankan mesin cacah sampah organic untuk pembuatan kompos (APO), crasher plastic atau penggiling kacang kedelei untuk pembuatan tahu.
PEMERASAN BAHAN.
Pemerasan berfungsi untuk memisahkan antara cairan dan padatan, bahan padatan untuk pakan ternak dan bahan cair untuk pupuk organic cair. Proses ini persis seperti pemerasan kelapa parut menjadi santan.
Alat yang dipergunakan pun sama seperti pemeras santan, namun dalam skala besar membutuhkan alat yang bisa continue/berkelanjutan.
Alat yang disarankan mesin screw press yang umum dipergunakan di beberapa Negara untuk memisahkan padatan dan cairan dari kotoran ternak (sapi).
PENIRISAN BAHAN.
Proses ini dilakukan agar kadar air dalam bahan organic berkurang, sekaligus membiarkan lalat bertelur pada bahan. Proses ini membutuhkan waktu sekurang-kurangnya 3 jam – 1 hari (maksimal 10 hari).
Alat yang digunakan adalah kawat berlubang dengan mass tertentu dibuat seperti meja yang dibagian bawahnya terdapat penampung cairan seukuran meja kawat, kemudian diangin-angin.
 PENGUKUSAN
Kukus bertujuan untuk menghilangkan bakteri pathogen juga mengurai serat bahan-bahan organic, penelitian membuktikan kandungan bahan yang dikukus, direbus dan dibiarkan saja menunjukkan keunggulan pengukusan.
Dalam skala besar pengukusun bisa continue dengan conveyor belt dan ruang steam khusus, sehingga proses bisa lebih cepat dan banyak. Waktu dan suhu yang dibutuhkan adalah 10 menit dengan panas 80®C.
FERMENTASI/UNGKEB.
Tujuan dari fermentasi adalah agar bahan-bahan organic menjadi homogen(menyatu) karena diurai oleh mikro organism(makhluk tak kasad mata). Bahkan akan muncul belatung dari menetasnya telur-telur lalat, telur lalat akan menetas setelah 24 jam. Makin banyak belatung maka kandungan protein pada bahan semakin tinggi. Jika hanya 24 jam di fermentasi penelitian telah membuktikan bahwa kandungan protein pada bahan di kisaran 10% - 15%. Fermentasi atau ungkeb ini bisa dilakukan sebagian kecil saja dari proses produksi karena dikhawatirkan penumpukkan akan menimbulkan masalah baru.
Fermentasi atau ungkeb adalah untuk membuat produk-produk unggulan dalam proses pembuatan pakan ternak atau fermentasi dibutuhkan pada pembuatan kompos.
Alat untuk fermentasi adalah ember-ember bertutup (seperti ember cat ukuran 20kg), agar tidak terlalu berat dan mudah ditumpuk sehingga mengurangi ruang penyimpanan.
PENGGILINGAN DAN CETAK PELET.
Penggilingan dan pencetakan pellet bertujuan untuk menjadikan bahan lebih menyatu (homogen) sekaligus mencetak bahan organic menjadi seukuran agar mudah dicerna oleh ternak dan lebih cepat kering.
Mesin dan alat yang digunakan bisa menggunakan alat giling daging biasa atau alat cetak pellet basah(apung)
PENGERINGAN.
Pengeringan sederhana dan murah adalah dengan memanfaatkan sinar matahari, namun akan sangat tergantung dengan cuaca, bahkan sangat beresiko jika produksi banyak/massif.
Pengeringan yang disarankan adalah dengan menghembuskan udara panas(kering) ke bahan dalam waktu tertentu dan sekaligus mengeluarkan udara basah dengan cepat. Secara teori pengeringan bahan padat terjadi dikarenakan adanya perbedaan suhu antara padatan dan ruangan (suhu ruangan lebih tinggi dari bahan), sehingga akan memicu penguapan cairan dalam bahan ke udara di ruangan pengeringan, kemudian secepat itu pula udara yang bercampur air dikeluarkan dari ruangan. Yang perlu diperhatikan adalah panas yang berlebihan akan mengakibatkan bahan organic gosong dan sangat berpengaruh kepada tekstur, rasa dan nutrisi.
Maka kombinasi yang tepat antara panas dan blower adalah kunci percepatan produksi.
PELLET SEBAGAI PAKAN TAMBAHAN TELAH SIAP.
Pakan jenis ini cocok untuk ternak ruminansia (kambing dan sapi), bahkan cukup baik untuk ayam kampug.





UNTUK AYAM BROILER, ITIK, IKAN DLL.

Dibutuhkan tambahan protein hewani yang cukup dengan menambahkan layer belatung kering dengan komposisi : AYAM BROILER = LAYER BAHAN SAMPAH ORGANIK 2 BAGIAN DAN LAYER BELATUNG 1 BAGIAN (PREDIKSI PROTEIN 20-23%); IKAN DAN ITIK = LAYER BAHAN SAMPAH ORGANIK 1 BAGIAN DAN LAYER BELATUNG 1 BAGIAN (PREDIKSI PROTEIN 32-35%)


Read More......

Kamis, 24 Juli 2014

Mengentaskan Permasalahan Persampahan dengan Merubah Kebijakan

     Tahun 2005 Kota Bandung kerepotan membuang sampah dikarenakan TPA (tempat pembuangan akhir) Leuwih Gajah longsor dan menelan korban, kelanjutannya TPA tersebut ditutup sampai hari ini. Dimulailah fase baru pembuangan sampah di TPA Sarimukti-Rajamandala, lokasi yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Purwakarta.
    
     Tahun 2006 kebijakan para wakil rakyat dan pimpinan Kota Bandung untuk membangun pemusnah sampah masal yang berskala 1500 ton / hari – disesuaikan dengan produksi sampah kota. Kebijakan ini mendapatkan respon negatif dari warga sekitar dan para pencinta lingkungan dengan menolak rencana pembangunan pemusnah sampah tersebut. PLTSa (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah) yang direncanakan Kota Bandung adalah alat pembakaran sampah (incinerator) besar, mudahnya alat ini diprediksi oleh para ahli mampu menyelesaikan persoalan persampahan Kota Bandung yang tidak memiliki TPA.

      Patut diakui TPA yang eksis hingga hari inipun sekiranya tidak mampu menampung sampah kota bandung kemudian hari, hal ini dikarenakan infrastruktur alam disekitar TPA tidak mendukung atau kurang memadai untuk menampung produksi sampah kota secara terus-menerus. Sebaik-baik pengelolaan sampah adalah pengelolaan berkesinambungan, yaitu pengelolaan yang dilakukan dari sumber sampah – TPS (tempat pembuangan sementara) – kemudian TPA (tempat pembuangan akhir), dengan terencana dan dinamis.

     Maksudnya tanggung jawab persampahan dibagi kepada setiap masyarakat, kelompok-kelompok masyarakat, kepala wilayah sampai kepada pemimpin negara ; semua dibebani tanggung jawab sesuai dengan kapasitas dan fungsinya. Tata ruang juga berperan dalam penyelesaian persampahan karena penataan ruang yang salah dapat berdampak kepada sulitnya melakukan pengelolaan sampah. Meskipun sekarang kota seperti tidak tertata namun tidak ada kata terlambat dalam membuat kebijakan baru yang mewajibkan setiap individu dan kelompok untuk menyediakan infrastruktur alami dalam lingkungannya – kalau memungkinkan setiap rumah. Pertanian dan peternakan seharusnya menjadi lompatan strategis yang patut dilibatkan untuk melengkapi mata rantai dari pengelolaan sampah.

     Persoalan kota tidak memiliki lahan pertanian dan peternakan adalah hal lain yang membutuhkan kerjasama regional dengan pedesaan atau wilayah-wiayah penopang disekitar kota. Meskipun sangat sedikit warga kota yang bertani dan berternak, sepertinya diperlukan data baru untuk mengumpulkan mereka dan menjadikan jejaring baru dalam simbiosis mutualis pengelolaan sampah kota. Pertanian dan peternakan kota ini tidak harus pertanian dan peternakan produksi seperti di desa tetapi bisa juga peternakan dan pertanian hoby untuk perumahan.

     Data ini akan bisa dijadikan sandaran berapa besar peran pedesaan untuk berkerjasama dalam pengentasan persampahan sebagai hilir dari pengelolaan sampah. Hilir pengelolaan sampah berdasarkan berbagai riset dan pengalaman lapangan banyak ahli dan pengusaha dapat dibagi menjadi 2, yaitu : 1.hilir sampah anorganik adalah pabrik-pabrik yang berusaha dibidang daur ulang (plastik, kertas, logam dsb) ; 2.hilir sampah organik adalah para petani dan peternak yang membuthkan pupuk dan pakan untuk ternak. Mungkinkah melakukan semua ini dalam waktu dekat dengan persoalan sampah yang sudah sedemikian rumitnya dan tanpa memiliki TPA.

     Berbuat sesuatu yang bukan menjadi kebiasaan memang sulit, tapi bukan berarti tidak mungkin, selagi akhir dari kesuluruhan kegiatan ini berdampak positif kepada semua pihak. Tidak adanya TPA bukan menjadi penghalang untuk melakukan kegiatan ini, karena TPA bisa meminta bantuan kepada tetangga daerah atau kepada instansi pemerintah yang lebih tinggi dengan TPA regional.

     Pengalaman dilapangan membuktikan bahwa sekurang-kurangnya 20% sampah telah dikurangi oleh para pengusaha daur ulang sampah anorganik, kenapa hanya 20%? Karena tekhnologi pengelolaan yang mahal dan pasar yang tidat stabil, tekhnologi pengelolaan sampah anorganik yang didaur ulang membutuhkan modal ratusan juta sampai milyaran rupiah sehingga sedikit sekali masyarakat yang mampu melakukan usaha ini. Belum lagi pasar yang tidak stabil, seringkali pengusaha-pengusaha kecil bangkrut dikarenakan ketidak stabilan harga jual bahan-bahan daur ulang. Maka dibutuhkan standarisasi baku dari pemerintah dengan mengontrol pasar bahan-bahan daur ulang sampah anorganik serta melakukan berbagai riset yang bisa diterapkan oleh masyarakat dengan modal relatif kecil. Setelah itu barulah pemerintah bisa menyediakan hibah berupa alat dan mesin untuk mendaur ulang sampah anorganik dalam skala kecil dengan tidak melupakan memfasilitasi masyarakat sehingga bisa berhubungan dengan sektor industri yang lebih besar dengan membuat jejaring yang mudah diakses oleh siapa saja.

      Menurut data PD.Kebersihan Kota Bandung tahun 2002 sampah kota bandung didominasi oleh sampah rumah tangga 60%, masing-masing 10% oleh pasar, pertokoan dan hotel. Artinya 80% sampah kota bandung memiliki kesamaan jenis sampah yang dalam undang-undang no 18 tahun 2008 disebut sebagai sampah rumah tangga atau sampah sejenis sampah rumah tangga. Sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga ini rata-rata perbandingan organik dan anorganiknya adalah 70 : 30. Maka jika para pelaku usaha daur ulang sampah anorganik bisa melakukan pengurangan hingga 20% maka sampah anorganik yang tersisa dari jenis ini hanya 10%, bagaimana dengan sampah organik?

     Hulu sampah organik adalah para petani dan peternak baik kecil maupun besar, kenapa tidak dikembalikan kepada mereka? Ini adalah ungkapan salah seorang dosen ITB yang cukup aktif di DPKLTS (dewan pemerhati kehutanan dan lingkungan tatar sunda) Prof.Mubiar Purwasasmita, pernyataan yang retoris mungkin tapi hari ini telah terbukti dengan melakukan pengeloaan sampah organik menjadi tepung, bio gas dan pupuk organik cair serta probiotik untuk hewan yang awanya hanya dijadikan kompos. Di dunia maya telah tersebar metode pengeringan, metode dewatering, metode fermentasi cairan dan padatan, semua proses ini akhirnya adalah hasil yang menguntungkan berupa pakan ternak, pupuk cair dan energi berupa gas.

     Sekarang coba hitung jika dari 80% sampah kota bandung diolah dengan cara-cara di atas selain menghasilkan telah terjadi pengurangan yang sangat drastis. Jika timbulan perhari sampah adalah 1500 ton, kemudian diolah maka yang terbuang hanya 10% saja – atau sama dengan 150 ton per hari. Dengan demikian sebanyak 1350ton sampah telah terolah, seandainya 1350 ton sampah tadi seharga Rp 250,- per kg saja, maka akan menjadi benefit yang setara dengan Rp 337.500.000,- per hari = Rp 10.125.000.000,- per bulan, bandingkan dengan incinerator besar berupa PLTSa yang bukan menghasilkan malah memerlukan biaya (rugi) sebesar Rp 7.500.000.000,- per bulan. PLTSa inipun hanya berkemampuan 700ton/hari, bisa disama artikan biaya (kerugian) yang sebenarnya adalah 15milyar per bulan. Seperti mimpi memang membandingkan angka-angka tersebut dan dengan setumpuk persoaan persampahan kota yang sedemikian pelik, tapi semua ini tidak mustahil dengan melakukannya di lokasi-lokasi yang berpotensi, misalnya karena memang produksi sampah organik adalah yang terbesar bisa dilakukan pilot project di beberapa pasar induk yang faktanya memproduksi sampah organik hingga 90%. Pararel dengan pasar induk patut dilakukan pilot project di beberapa rw atau kecamatan di kota bandung. Hal ini dilakukan untuk memudahkan dalam melakukan analisis yang mendekati kebenaran. Jika ada kekhawatiran mengenai pilot project ini apakah PLTSa bukan pilot project? Apakah kota bandung pernah melakukan incinerasi masif sampah? Beberapa contoh penerapan incinerator di dalam kota bandung atau daerah lain malah tutup karena dampak lingkungan dan biaya yang besar, ini belum selesai karena incinerator memproduksi abu, jika prosesnya masif maka abunya juga masif.

     Kesimpulannya sampah kota bandung sangat mungkin diselesaikan dengan reduksi sampah yang masif dengan melakukan berbagai kebijakan-kebijakan publik yang tidak perlu politisasi (kepentingan golongan) dalam membuatnya, cukup dengan memperhatikan fakta dan data aktual. Dengan demikian hari ini persoalan sampah kota bandung adalah persoalan kebijakan publik (politik) yang harus mengedepankan kepentingan masyarakat dan menguntungkan masyarakat bukan sebaliknya.
Read More......