Senin, 19 Juli 2010

PENGELOLAAN SAMPAH

SKEMA PENGELOLAAN SAMPAH


JEJAK SAMPAH
Read More......

Minggu, 09 Mei 2010

Membuat Lubang Biopori Tidak Sulit



Pengunjung melihat berbagai informasi mengenai pentingnya air bersih serta tata cara menjaganya saat bMembuat Lubang Biopori Tidak Sulit erlangsungnya Green Festival 2009 di Parkir Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (5/12). Festival yang digelar yang kedua kalinya ini ingin membangunkan kesadaran kepada masyarakat mengenai pentingnya lingkungan di tengah isu perubahan iklim yang semakin terlihat dampaknya. Festival berlangsung hingga Minggu (6/12). .................

JAKARTA, KOMPAS.com - Menurut data BPLHD Jakarta, Lubang Resapan Biopori (LRB) mampu meningkatkan daya resap air ke dalam tanah serta meningkatkan peran fauna tanah dan akar tanaman sehingga efektif mengatasi masalah banjir. Selain itu, LRB juga berperan dalam mengubah sampah organik menjadi kompos dan mengurangi emisi rumah kaca. Demikian informasi yang tertera di papan biru zona air Green Festival yang digelar di Parkir Timur Senayan Jakarta, Minggu (6/12).

Oleh karena itu, setiap rumah sebaiknya memiliki lubang biopori. Idealnya, rumah seluas 100 meter persegi memiliki 28 lubang biopori. Ada beberapa langkah untuk membuat lubang biopori. Pertama, buat lubang berdiameter 10 cm dengan kedalaman 30-100 cm dengan menggunakan bor. Beri jarak 0,5-1 m antar lubang. Sedangkan untuk area di bawah pohon, cukup dibuat tiga lubang per pohon dengan formasi seperti segitiga sama sisi.

Kedua, lakukan pengerasan bibir lubang untuk mencegah erosi tanah masuk ke lubang dan mempertahankan kerapihan mulut lubang. Ketiga, buatlah pengaman lubang dengan besi atau kawat agar tidak ada yang terperosok ke lubang.
Keempat, isi lubang dengan sampah organik seperti sampah dapur, sampah dedaunan, dan sampah taman lainnya. Jangan memasukkan sampah anorganik seperti plastik, baterai, dan styrofoam ke dalam lubang.

Dengan adanya lubang biopori, kandungan air tanah bisa terjaga karena air tidak langsung terbuang ke saluran pembuangan, namun meresap kembali dalam tanah. Air yang meresap ini mengurangi kemungkinan terjadinya banjir akibat meluapnya saluran pembuangan.

Zona air Green Festival memaparkan informasi penting terkait air seperti tips menghemat air, misalnya dengan menggunakan shower saat mandi, informasi mengenai sumur resapan dan pendayagunaan ulang air. Zona air merupakan salah satu zona di Green Festival yang digelar Green Initiative Forum di Parkir Timur Senayan Jakarta, 5-6 Desember. Green Festival adalah kampanye lingkungan tahunan yang bertujuan menyadarkan masyarakat akan isu pemanasan global.
Read More......

Kamis, 15 April 2010

PEMBIBITAN CENGEK SEBAGAI HILIR PENGELOLAAN SAMPAH

14 februari 2010.


Beberapa bulan blog tidak di update karena banyak faktor, salah satunya sulit memilih bahan untuk artikel dan untuk ide sendiri fokal sedang berupaya meningkatkan kapasitas dan mobilitas menuju hilir pengelolaan sampah yang selama ini diabaikan pemerintah.

Ada 2 hilir pengelolaan sampah yang sedang dilakoni fokal, yaitu pemrosesan plastik dan pembibitan. Dengan berbekal mesin bantuan dari Distarkim Prov. Jabar berbagai plastic pun di giling dan dijual ke pabrik . Proses selanjutnya , yaitu : pellet plastic /butir butir plastik sayangnya proses ini cukup mahal biayannya sampai-sampai ada beberapa jenis plastik yang rugi jika di proses.
.................
Hilir yang kedua adalah pembibitan cengek (cabe rawit) merah& cabe (tanjung &TW). Percobaan 2 pot cukup menghasilkan terutama cengek 1 pohon menghasilkan lebih dari 20 buah cengek. Medianya kompos dengan plastik sisa refill minyak goreng kemasan untuk 2 liter, karena tidak kalah menarik cabe tanjung 1 pot dari karung buahnya 8 buah.



Awalnya kompos kami banyak mengandung biji-biji cabe dan cengek, karena proses yang tidak sempurna biji-biji ini tumbuh mencapai ribuan. Munculah inisiatif untuk membibitkan. Dengan modal plastic untuk 3 kg di isi kompos. Semai yang liar kami pindahkan sambil membenihkan yang baru. Untuk langkah awal 100 polybag cengek dan cabe sudah terlaksana, kemudian kami targetkan 300 polybag. Kalau 1 pot bisa 20 buah X 300 polybag ada 6000 cengek. Siapa mau beli bibit cengek fokal hayo??
Read More......

Minggu, 31 Januari 2010

FOKAL with FHB

Read More......

Senin, 18 Januari 2010

SRIKANDI-SRIKANDI FOKAL





Read More......

Proses 3R Atasi Masalah Sampah

Kamis, 12 November 2009 , 09:56:00 dari www.pikiran rakyat.com

BANDUNG, (PRLM).- PD Kebersihan targetkan 150 RW di Kota Bandung melaksanakan proses 3R (Reduce, Reuse, Recycle) pada 2010 mendatang. Dengan target 10 persen dari total sampah yang ada di Kota Bandung telah dikekola melalui 3R. Diharapkan, hal tersebut akan sejalan dengan penurunan jumlah volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Hal tersebut diungkapkan Direktur PD Kebersihan Cece Iskandar, dalam kegiatan Pelatihan Program Bank Sampah dalam sosialisasi 3R, Kamis (12/11). Target tersebut sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bandung..................

Cece mengungkapkan dengan jumlah penduduk Kota Bandung yang diperkirakan mencapai 2,5 juta jiwa, timbulan sampah di sumber sampah Kota Bandung adalah 7.500 m3 perhari. Jumlah itu setara dengan 2.000 ton. Sementara, jumlah sampah yang terangkut adalah 4.050 m3 atau 1.000 ton.

Merujuk pada kondisi tersebut, Cece mengatakan perlu dilakukan upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut. Salah satunya dengan melaksanakan 3R.

Ia menambahkan, dengan melakukan 3R tidak hanya akan mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA. Tetapi juga memiliki aspek ekonomi yang dapat menghasilkan. "Sampah yang sudah dipilah akan memiliki nilai jual yang tinggi. Hal itu akan memberikan penghasilan tambahan bagi masyarakat dan para pelaku daur ulang sampah," ujarnya.

Hal itu, lanjut Cece, telah ia rasakan langsung. Ia mengaku setiap bulannya mampu memilah sedikitnya satu karung sampah anorganik. Sampah tersebut dapat dijual dengan harga Rp 20.000. "Sampah itu bisa menghasilkan juga. Kalaupun tidak, kita bisa secara tidak langsung bersedekah dengan memberikan sampah tersebut ke pemulung, karena mereka dapat menjual sampah itu," ucapnya.
Read More......

Minggu, 17 Januari 2010

Membangun Kota (Sungai) Ramah Air

Selasa, 13 Januari 2009 | 11:16 WIB dari www.kompas.com

Oleh: Nirwono Joga*

Banyak asa yang disandarkan sehubungan dengan rencana Kompas melaksanakan Ekspedisi Ciliwung, 16-22 Januari 2009 (Kompas, 8-9 Januari). Semua tahu, Sungai Ciliwung identik dengan kota Jakarta, seperti halnya kita mengingat Baghdad dengan Sungai Tigris-nya, Kairo-Sungai Nil, London-Sungai Thames, Paris-Sungai Rheine, dan Melbourne-Sungai Yarra. (Bandung apa kabarmu??.pen)

Indonesia merupakan negeri air dengan kebijakan tentang air termasuk yang terburuk di dunia. Dari total 472 kota dan kabupaten, hampir 300 kota dan kabupaten dibangun dekat sumber air, baik berupa danau, daerah aliran sungai, maupun tepi pantai. Namun, sudah lama pula sebenarnya kebijakan perencanaan kota kita dan pola budaya hidup warga menganiaya sungai dan mengingkari fitrah air..................

Kebijakan tata kota kita tidak menghargai kesinambungan hidup air. Danau (situ), sungai, dan tepi pantai menjadi halaman belakang yang kotor dan tempat membuang limbah, sampah, dan hajat. Jakarta pun dijuluki kota jamban terpanjang di dunia.

Badan sungai menyempit dipenuhi bangunan (tak berizin) dan mendangkal akibat penggundulan hutan di hulu, erosi, dan sedimentasi. Situ-situ (tempat menampung kelebihan air hujan dan air sungai) justru diuruk atas nama kebutuhan lahan permukiman, tempat usaha, atau tempat buang sampah!

Air berubah menjadi sumber malapetaka. Sungai (dan saluran air) penuh sampah, berwarna hitam pekat, menebar aroma tak sedap, dan sumber penyakit lingkungan (kolera, diare, gatal-gatal, dan demam berdarah). Air sungai sudah lama tak layak minum. Puncak kemurkaan air saat air pasang di tepi pantai (rob) dan pada musim hujan air sungai meluber membanjiri kota.

Lanskap kota tak akan bertahan tanpa air yang lestari. Sejarah mencatat, kota-kota besar dunia, beradab, dan masyhur adalah kota-kota yang dibangun dekat sumber air.

Tengok kota pesisir Sydney, Los Angeles, Miami, Barcelona, kota kanal Venice, Amsterdam, dan kota sungai London, Paris, Melbourne, Manhattan. Air ditempatkan (kembali) pada tempat yang sangat mulia dan bermartabat sebagai berkah sumber kehidupan warga dan kota. Bagaimana Jakarta dengan Sungai Ciliwung dan kedua belas sungai yang mengalirinya?

Jakarta terus mengalami kekurangan air bersih sepanjang tahun. Debit air sungai dan situ menurun dan tak lama lagi mengering. Air limbah rumah tangga dan air hujan melimpah ruah terbuang percuma begitu saja melewati saluran air langsung ke sungai dan laut. Air tidak sempat ditampung dahulu ke daerah resapan air karena taman, situ, rawa-rawa, dan hutan mangrove terus menyusut diuruk untuk pembangunan kota yang tak berkelanjutan.

Fenomena pemanasan global dan degradasi kualitas lingkungan memaksa Jakarta harus membangun kota (sungai) ramah air untuk menghidupkan kembali air dalam tata kotanya. Ini sesuai Undang-Undang (UU) Nomor 23 Tahun 1997 tentang Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU No 7/2004 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air, UU No 26/2007 tentang Penataan Ruang, dan Permendagri No 1/2007 tentang Penataan RTH Kawasan Perkotaan.

Ada lima kriteria, yakni kemudahan akses publik terhadap air, partisipasi masyarakat dalam membangun budaya ramah air, penataan muka dan badan air secara berkelanjutan, pengelolaan air, dan limbah ramah lingkungan.

Kota memberikan kemudahan akses untuk memperoleh air bersih layak minum. Di tempat-tempat publik di terminal, stasiun, dan taman disediakan keran air minum gratis. Saluran air terhubung secara hierarkis (kecil ke besar sesuai kapasitas), tidak terputus, terawat baik bebas sampah, bersih, dan lancar. Partisipasi masyarakat membersihkan saluran air di depan rumah harus terus digiatkan.

Sumur resapan air diperbanyak dan situ-situ direvitalisasi untuk memperbanyak serapan air ke dalam tanah dan mengurangi air yang dibuang ke sungai (ekodrainase). Pencemaran air sungai dikurangi dengan pembuatan instalasi pengolahan air limbah menjadi air daur ulang untuk mandi, mencuci, dan menyiram.

Jakarta sebagai kota sungai, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta harus merefungsi bantaran sungai bebas dari sampah dan permukiman, menghijaukan kembali bantaran, serta menjadikan halaman muka bangunan dan wajah kota. Meski memakan waktu dan daya tahan lama, upaya revitalisasi bantaran kali harus diikuti sosialisasi yang mendorong warga untuk berpartisipasi pindah secara sukarela bergeser (bukan tergusur) ke kawasan terpadu yang komprehensif.

Pemerintah daerah, pengembang besar, dan perancang kota bersama membangun kawasan terpadu yang terencana matang dan layak huni. Kawasan dilengkapi fasilitas hunian vertikal sistem marger sari, perpaduan berimbang 1:3:6 (1 hotel, 3 apartemen, 6 rusunami), pendidikan (sekolah, kursus, pelatihan), ibadah, perkantoran, dan pasar, serta dekat jalur transportasi publik. Penghuni cukup berjalan kaki atau bersepeda ke tempat tujuan dalam kawasan, serta mengandalkan transportasi publik ke luar kawasan.

Jika tidak, warga yang tergusur pasti akan berpindah menghuni ruang hijau kota lainnya (bantaran sungai, rel kereta api, bawah jalur tegangan tinggi, kolong jalan layang, dan tepian situ) di lain lokasi yang memang banyak tidak terawat. Begitu seterusnya.

Setelah itu, bantaran sungai (dan juga bantaran rel kereta api, jalur tegangan tinggi, kolong jalan layang) dapat dikembangkan sebagai taman penghubung antar-ruang kota (urban park connector). Warga dapat berjalan kaki atau bersepeda menyusuri sungai menuju ke berbagai tempat tujuan harian (kantor, sekolah, pasar) dengan aman, nyaman, dan bebas kemacetan sambil menikmati keindahan lanskap tepi sungai. Pengoperasionalan perahu air sebagai alat transportasi air kota (waterway) dan taman penghubung (jalur sepeda) akan mendukung pola transportasi makro terpadu Jakarta.

Sebagai daerah terbuka untuk publik yang menarik, warga dapat menggelar acara rekreasi bersama keluarga atau teman di tepi sungai setiap akhir pekan. Komunitas peduli lingkungan membentuk koperasi masyarakat cinta Sungai Ciliwung. Berbagai perhelatan turisme seperti Festival Sungai Ciliwung digelar menjadi kalender tetap pariwisata kota.

Untuk menjaga kebersihan dan mengendalikan pemanfaatan sungai, pemerintah kota harus mengoperasikan patroli perahu kecil pembersih sungai setiap hari untuk mengangkut sampah tepi sungai sekaligus mengawasi pemanfaatan badan sungai oleh masyarakat.

Kelak bantaran Sungai Ciliwung pun bernilai estetis (indah, bersih, tertata rapi), ekologis (meredam banjir, menyuplai air tanah), edukatif (habitat dan jalur migrasi satwa liar), dan ekonomi (wisata air, transportasi ramah lingkungan).

Perubahan perspektif ini semoga dapat mengubah keseluruhan lanskap hunian kota Jakarta yang berpihak kepada kelestarian air, kota (sungai) ramah air, menuju kejayaan (kembali) peradaban kota tepian air.

*Arsitek Lanskap


Bagaimana dengan Bandung ??????
Read More......