Selasa, 24 Maret 2009

Warna-warni Pemilu

Pemilu didefinisikan sebagai pesta demokrasi, demokrasi yang harus dibayar mahal dengan pesta – belum lagi pengorbanan masyarakat yang diiming-imingi oleh kesejahteraan dan kebahagiaan – berkorban waktu, tenaga bahkan pikiran, tidak jarang dengan benturan fisik. Semuanya itu hanya demi sebuah system yang terbukti selama puluhan tahun di negeri ini gagal mensejahterahkan masyarakat, terbukti dengan semakin minimnya devisa dan asset Negara, koruptor semakin jadi, masyarakat mati kelaparan, stress yang berujung pada kegilaan, pengangguran meningkat, kesehatan mahal tidak terbayar, kebersihan dan lingkungan termaksud hutan rusak tak kunjung baik....

Berharap pada pemilu atau pesta demokrasi seperti berharap terhadap iblis menjadi malaikat, contohnya terlalu banyak syaitan mengumbar janji palsu sesaat hanya demi kepentingan tingginya angka suara pemilu. Maksudnya pada saat pemilu mendadak syaitan-syaitan ini membeli topeng malaikat untuk mendapat dukungan agar lebih kaya dan tajam kuku-kukunya bisa mencengkram rakyat yang papa. Seusai pemilu topeng-topeng malaikat tadi dilepas para sayaitan kembali ke wujud semula, menjadi penghisap darah kehidupan.

Di GCA dapat dibuktikan dengan sangat kasat mata. Sebelum isyu pemilu mengudara keadaan terkesan biasa saja. Biasa penguasa memerah yang dikuasai, tak pernah perduli dengan keadaan masyarakat yang teriak-teriak, menjerit bahkan ada yang kesakitan. Masyarakat GCA begitu gigih dalam memperjuangkan aspirasinya – tidak perduli panas terik, hujan, bahkan malam yang dingin menusuk. Mereka bahu-membahu untuk menyuarakan aspirasinya kepada penguasa bahwa “mereka merasa ditindas”. Tak ada perhatian dari siapa-siapa, teriakan itu seperti nyanyian merdu bagi mereka (kaum elit), jeritan dan tangisan itu ibarat senandung rindu. Betapa pilu di sayat sembilu masyarakat GCA ini. Kemana wakil ku, ………………

Saat ini pemilu santar nyaring memeka telinga, sang gurita bisa turun tahta kalau tidak dapat suara. Sangking takut tak dapat suara, malu tak lagi menjadi etika, mencoba membujuk masyarakat yang semakin dewasa. Ini adalah seekor gurita bukan manusia perkasa, gurita dengan kuku – kuku beruang betina. Gurita bertangan banyak dengan kuku-kuku tajam siap mencengkram, mencari makan demi isi perutnya yang keroncongan jika tak di isi berlian. Tapi saat menjelang pemilu gurita ini menjelma menjadi kucing Persia yang anggun dan lucu, setiap langkah-langkahnya bergemerincing irama merdu seiring gelombang bulu-bulu indahnya.

Allah berkata dalam firman Nya : “kebathilan pasti lenyap dan kebenaran pasti menang”. Silahkan berbuat semaumu, silahkan tak perdulikan suara kami, tapi keyakinan kami tetap ada dan selalu ada ……kebenaran pasti menang.

Tidak ada komentar: