Minggu, 20 September 2009

Apakah PLTSa Metode Terbaik

dari : http://www.pksbandung.org

Bertempat di hotel Santika, Sabtu (12/5), berlangsung seminar dan lokakarya pengelolaan sampah. Kegiatan yang digelar bidang ekuintek DPD PKS Kota Bandung dalam rangkaian Milad PKS ke-9 ini, berusaha mencari solusi tentang permasalahan sampah di Kota Bandung.

Perwakilan LSM, Ormas, Akademisi, mahasiswa, pers dan para praktisi berkumpul untuk mendiskusikan masalah sampah di Kota Bandung. Hadir sebagai pembicara, Drs. Husni Muttaqien Ketua DPRD Kota Bandung, Prof. Dr. Mubiyar Purwasasmita Direktur DPKLTS, Dr. Asep Warlan, SH., MH. Staff Pengajar Fakultas Hukum Universitas Parahyangan, Dr. Taufikurahman Staf Pengajar Fakultas SITH ITB, perwakilan dari PD Kebersihan Kota Bandung dan Kepala Dinas BPLHD Kota Bandung. Sebagai moderator seminar sehari tersebut adalah Dr. Setiadi Yazid Ketua Bidang Ekuintek DPD PKS Kota Bandung dan Haru Suandharu, S.Si., M.Si. Ketua DPD PKS Kota Bandung

Legalitas pengelolaan sampah
.....
Ketua DPRD kota Bandung, Drs. Husni Muttaqien mengatakan, payung hukum pengelolaan sampah sangat terkait dengan Perda K-3. Namun kendala yang dihadapi di lapangan adalah masalah implementasi dari pelaksanaan Perda itu sendiri. Pemerintah wajib melakukan standarisasi pelayanan minimal bagi pengelolaan sampah kota. Standar ini diantaranya adalah sederhana, kongkrit, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Prinsip pengelolaan sampah yang harus dilakukan pemerintah kota meliputi empat faktor. Pertama temukan metode terbaik, kedua legalitas, evaluasi perda, ketiga pembiayaan APBD dan sharing pihak ketiga dan keempat adalah implementasi pendidikan paradigma masyarakat tentang pengelolaan sampah.

Rekomendasi bahasan lokakarya adalah sebagai berikut. Pertama, apakah PLTSa adalah metode terbaik? Kedua, mendorong terwujudnya standar pelayanan minimal dan ketiga siapa yang melaksanakannya?

Proyek Bioteknologi lebih besar

Prof. Dr Mubiar Purwasasmita, Direktur DPKLTS mengatakan pengelolaan sampah berbasis lingkungan adalah solusi yang paripurna. Metode terbaik saja tidak cukup, perlu ada proses pembudayaan dalam masyarakat. Teknologi untuk mengolah sampah yang ramah lingkungan sudah tersedia di Indonesia. Salah satunya dengan manajemen sampah sehingga dapat dipergunakan kembali di bidang-bidang lain.

Terutama digunakan untuk bahan pupuk kompos, yang sangat berguna bagi kesuburan tanah. Penanganan sampah untuk kompos dapat dimulai dari lingkungan terkecil yaitu keluarga.
Pecinta lingkungan terkadang dikalahkan oleh kepentingan proyek, yang sejatinya proyek terbesar adalah memperkuat bio bisnis. Jadi seharusnya proyek-proyek pertanian berbasis bioteknologi menjadi prioritas.

Ramah lingkungan

Terdapat banyak potensi dari sampah yang seandainya metode yang dipakai benar. Salah satu metode menanggulangi sampah adalah combustion atau pembakaran, potensi-potensi itu akan hilang menjadi panas, sedangkan kita tahu bahwa panas adalah proses pembuangan atau inefisiensi energi.

Penanganan sebaiknya dimulai dari rumah dengan dijadikan kompos.Aktvitas recycling sampah plastik melibatkan banyak pihak dan memiliki nilai ekonomi yang sangat besar dan belum terdata. Jika plastik ini dibakar, maka selain kita kehilangan nilai ekonomis yang tinggi, juga berpotensi tinggi untuk mencemari lingkungan dengan zat-zat yang sangat berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan, misalnya Dioxine, zat yang berpotensi memicu kanker.

Rekomendasinya adalah agar bagaimana sampah yang ada di masyarakat dapat digunakan kembali untuk mengembalikan kondisi tanah yang saat ini sudah tidak subur lagi.

PLTSa adalah suatu tahap untuk mempercepat aliran energi, sedangkan dengan komposting adalah membantu siklus ekosistem yang lebih baik. Kebudayaan masyarakat harus diarahkan menjadikan sampah menjadi energi yang lebih baik. Dengan perbaikan ekosistem yang dilakukan akan lebih menguntungkan untuk jangka panjang, kata Dr. Taufikurahman Staf Pengajar Fakultas SITH ITB

Tidak perlu referendum

Dalam UUD pasal 28, rakyat diberi hak untuk mendapat lingkungan yang sehat. Accountability dan Responsibility. Sampah adalah tanggung jawab pemerintah bukan masyarakat. Pendekatan intersektor, diatur pada setiap level dengan prioritas masing-masing.

Berikan insentif kepada masyarakat yang berperan dalam pengelolaan dan pengurangan produksi sampah. Lakukan pendekatan yang berbasis keilmuan. Daerah harus dapat membangun kelembagaan masyarakat yang memperhatikan penekanan produsksi sampah yang tidak ramah lingkungan seperti plastik dan sejenisnya..

Memberikan rekomendasi untuk membuat crash programme, nyatakan Bandung dalam keadaan darurat sampah, dalam jangka menengah perlu ada pembuatan Raperda sampah.

Referendum adalah kekuatan yang amat dasyat bahkan dapat diseterakan dengan revolusi, apakah referendum layak untuk sampah? Tanyakan saja ke para ahlinya, dengan metode lainnya public hearing dan sejenisnya. Menyayangkan sampai muncul wacana referendum untuk masalah sampah.

Sangat mungkin melakukan class action atau leggal standing masalah pengelolaan sampah atau yang paling ringan adalah uji publik. Tapi di Indonesia biasanya uji publik hanya digunakan untuk seremonial saja. Ujung-ujungnya adalah penyelenggara pemerintahan pemegang kendali, kata Dr. Asep Warlan, SH., MH.

Direktur utama PD Kebersihan Kota Bandung yang diundang menjadi salah satu pembicara tidak bisa datang, akhirnya diwakili salah satu staf dari PD. Kebersihan Kota Bandung. aw
Read More......

DPKLTS Pesimis Terhadap Perda Tentang Persampahan

Pikiran Rakyat
Kamis, 18 Juni 2009 , 13:39:00

BANDUNG, (PRLM).-Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) pesimis terhadap rancangan perda Jabar tentang persampahan. Dewan Pakar DPKLTS, Sobirin Supardiono, menyatakan, raperda yang akan dijadikan perda itu hanya akan menjadi 'macan kertas'.

Sobirin menjelaskan, saat ini sekitar 90 persen warga Jabar dikategorikan belum peduli terhadap persampahan. bahkan pemerintahnya pun belum serius mengatasi persoalan sampah......

Menurut dia, pengelolaan sampah tidak terlepas dari tiga faktor, yaitu political will, pendidikan, serta budaya. Untuk persoalan political will, kata Sobirin, pemerintah daerah dalam menunjukkannya untuk mengatasi persoalan sampah secara komperehensif.

Demikian pula di bidang pendidikan, tidak ada satu pun mata pelajaran tentang cara pengelolaan sampah di sekolah-sekolah. Sobirin mengatakan, masyarakat pun sudah terbiasa tidak dibebani dengan urusan sampah, karena mereka merasa sudah membayar retribusi.

"Idealnya pengelolaan sampah diawali dari produsennya. Proses pemilahan sampah yang sudah tertumpuk akan memakan biaya tinggi. Sekali ngangkut sampah dari TPS ke TPA bisa menghabiskan Rp 500 ribu per truk,'' ujar Sobirin, Kamis (18/6).

Menurutnya, rencana diberlakukannya perda tentang persampahan sangat bagus. Namun, berdasarkan pengalaman, payung hukum yang berkaitan dengan lingkungan hanya akan menjadi 'macan kertas' yang ompong.

Saat implementasi di lapangan, menurut Sobirin, biasanya terbentur ego sektoral dari masing-masing kota dan kabupaten. Kota dan kabupaten pun, menurut dia, kerap mengabaikan payung hukum yang digulirkan Pemprov. (A-132/kur)***
Read More......

Jumat, 28 Agustus 2009

Separuh Peserta Tak Lulus Ujian Uji Amdal untuk Tingkatkan Kualitas Lingkungan


Senin, 24 Agustus 2009 | 04:07 WIB

Jakarta, Kompas - Lebih dari separuh peserta uji kompetensi penyusun dokumen analisis mengenai dampak lingkungan dinyatakan gagal. Uji kompetensi pertama kali dilakukan akhir Juli 2009 dan hanya meloloskan 19 dari 43 peserta.

”Sebagai awal tidak apa-apa, mudah-mudahan ke depan lebih baik hasilnya,” kata Deputi VII Menteri Negara Lingkungan Hidup Bidang Pembinaan Sarana Teknis dan Peningkatan Kapasitas Sudariyono ketika dihubungi di Jakarta, Minggu (23/8).

Banyaknya peserta yang gagal, lanjutnya, tidak akan diikuti perubahan materi uji kompetensi. Kalaupun ada evaluasi, bukan ditujukan untuk memudahkan kelulusan.

”Kompetensi penyusun amdal yang jadi tujuan sehingga standar tidak akan diturunkan,” katanya. Dengan kata lain, penyusun yang mesti mengikuti standar, bukan sebaliknya.

Dihubungi terpisah, Sekretaris Umum Lembaga Sertifikasi Kompetensi-Ikatan Nasional Tenaga Ahli Konsultan Indonesia (LSK-Intakindo) Yayat T Soemitra, yang merupakan pelaksana uji kompetensi, mengatakan, sebagian peserta yang gagal diizinkan mengikuti uji kompetensi tahap berikutnya. Namun, ada sebagian yang tidak diizinkan mengulang. ”Ada ketentuan yang membuat sebagian tidak boleh mengulang lagi,” kata dia.....

Ketentuan itu terkait dengan skor nilai ujian, berupa tes teori tertulis dan wawancara. Sebanyak 18 penilai uji kompetensi yang direkrut dari ratusan pelamar memberikan penilaian tersebut.

Hadapi persaingan

Uji kompetensi penyusun dokumen amdal tersebut merupakan kebijakan baru sejak amdal dikenalkan pertama kali di Indonesia pada 20 tahun silam.

”Kompetensi mutlak diperlukan, selain demi kualitas lingkungan yang terjaga, juga karena banyak konsultan asing yang masuk dan boleh praktik di Indonesia,” kata Deputi I Menteri Negara Lingkungan Hidup Bidang Tata Lingkungan Hermien Roosita.

Banyaknya peserta yang gagal diharapkan tidak menurunkan semangat para penyusun dokumen amdal yang lain. Sebaliknya, hal itu memompa semangat menuju profesionalitas.

Diakui Hermien, kualitas dokumen amdal selama ini belum baik. Tak sedikit di antaranya yang disusun tidak serius dan hanya menyalin dokumen amdal dari tempat lain.

Akibatnya, kualitas lingkungan terus merosot sekalipun banyak proyek atau kegiatan yang memiliki dokumen amdal. ”Kami sadar akan hal itu dan perlu memperbaiki diri,” kata dia.

Kebijakan Kementerian Negara Lingkungan Hidup adalah setiap lembaga konsultan penyusun amdal di daerah nantinya minimal terdiri atas satu ketua dan dua anggota dengan sertifikat kompetensi penyusun.

Menurut Sudariyono, uji kompetensi tersebut sudah disosialisasikan kepada pemerintah daerah, swasta, dan para konsultan, yaitu bahwa saat ini ada standar yang harus dipatuhi. (GSA)
Read More......

Kamis, 20 Agustus 2009

KUNJUNGAN WARGA KOTA CIMAHI







DALAM RANGKA PEMBINAAN WAWASAN PENGELOLAAN TPA (KONSEP 3R DAN KOMPOSTING), DINAS PENYEHATAN LINGKUNGAN DAN KEBERSIHAN PEMERINTAH KOTA CIMAHI DAN MASYARAKAT PENGELOLA SAMPAH CIMAHI, BERKUNJUNG KE GRIYA CEMPAKA ARUM UNTUK BERBAGI PENGALAMAN DENGAN FOKAL .


Beberapa hari lalu perwakilan PemKot Cimahi dari Dinas Penyehatan Lingkungan dan Kebersihan melakukan survei untuk kemudian membawa masyarakat nya mempelajari dan membandingkan pengelolaan sampah di beberapa tempat. Sebelum ke GCA rombongan yang terdiri dari empat mobil van dan satu buah bus besar ini berkunjung ke pengelolaan sampah di Unpad Jatinangor.

Tidak kurang dari 100 orang partisipan berdialog dan bertukar pengalam serta pemikiran dengan kader Fokal. Masjid Siti Aisyah pertemuan dimulai. Ibu Dwi Retnastuti sebagai Ketua Fokal memberikan pemaparan mengenai sejarah dan awal mula kegiatan fokal. Bukan tanpa perjuangan dan kerja keras, semua memerlukan pengorbanan ; baik material maupun imaterial.....


Di awali dengan dua orang ibu (ibu sonya dan ibu rena), kemudian dibentuklah fokal yang mayorita anggotanya ibu-ibu dengan sedikit sekali kaum bapak nya. Sampai dengan hari ini Fokal tetap eksis dalam pengelolaan sampah.

Konsolidasi dengan pemerintah dan LSM terkait, sosialisasi dengan masyarakat lokal sampai luar pulau pun dilakukan. Hasilnya dukungan serta support lainya diraih, meskipun masih banyak aral yang merintang Fokal berniat dan bertekad tetap eksis dalam management persampahan ; mulai dari pengelolaan sampai dengan pengolahan.

Berbagai kunjungan dari berbagai element masyarakat dan Pemerintah adalah salah satu bukti nyata kinerja dan tekad fokal dalam upaya pengentasan permasalahan persampahan Kota dan di manapun juga.

Dengan tanpa diiringi rasa tinggi hati, yang semoga tidak pernah mendekati, Fokal berharap kesadaran masyarakat dan elemennya serta dukungan penuh pemerintah akan dapat merubah pola-pola penanganan sampah menuju kepada pengelolaan sampah yang lebih baik, yaitu :”Pengelolaan sampah berbasis masyarakat”.
Read More......

LEBIH BERNILAI SETELAH DIOLAH

DIKUTIP DARI HARIAN LOKAL TRIBUN JABAR RABU 19 AGUSTUS 2009

KELOLA SAMPAH

KUNJUNGI FOKAL – Pelajar SMA Muthahari Bandung berkunjung ke tempat pengelolaan sampah milik FOKAL di Griya Cempaka Arum beberapa waktu lalu.

JIKA tidak dikelola dengan benar, sampah kerap kali menjadi masalah. Bau busuk, udara yang tercemar, membuat kita tidak tahan berlama-lama di dekat sampah. Masalah lingkungan dan masalah lainnya kadang muncul akibat pengelolaan sampah yang salah.....

Namun ditangan orang yang kreatif , siklus hidup barang bisa menjadi lebih panjang. Barang yang sudah dianggap bisa diubah menjadi sebuah produk dengan diolah menjadi b arang yang mempunyai nilai tambah, menarik dan dapat dipakai lagi.

Warga Griya Cempaka Arum melalui wadah Forum Kader Lingkungan (FOKAL) sukses mengelola sampah menjadi barang yang lebih berguna.

“Sebelum diolah kita pisahkan antara sampah organik dan sampah non-organik. Untuk sampah non-organik masih bisa kita buat beberapa kerajinan seperti tas dari kantong plastik bekas kopi, atau barang lain dengan desain menarik. Sementara sampah organik kita olah menjadi kompos,” kata Afifi Rahmat, pengurus Fokal yang mendampingi pelajar di tempat pengelolaan sampah organik.

Sekitar dua ratus pelajar SMA Plus Muthahari Bandung berkunjung ke tempat pengelolaan sampah fokal beberapa waktu lalu. Mereka melakukan studi Lingkungan Sosial ke pengelolaan sampah.

“Selain di ruangan sekolah, kita bekali siswa dengan pelajaran lain, seperti kemasyarakatan yang berkaitan dengan pengelolaan sampahini,” kata Sukardi, pembimbing di Yayasan Muthahari.

Menurut Afif, pada kunjungan ini pelajar diberikan wawasan tentang pengelolaan dan pengolahan sampah.

Di Fokal, sampah dikembangkan membuat kompos dengan nama tekhnik takakura atau membuat kompos dengan sistem keranjang kompos. Antara biang bakteri yang dicampurkan dengan sampahnya yaitu satu banding satu. (muhammad barir)
Read More......

Sabtu, 15 Agustus 2009

World Bank dan Pemkot Cimahi Mengunjungi Fokal

Lebih dari satu bulan blog ini tidak di up date, selain kegiatan fokal - masing-masing personal yang sudah berkeluarga semua disibukkan dengan kegiatan liburan sekolah anak-anak. Pertengahan july fokal memulai lagi kegiatan rutinnya berupa sosialisasi kepada warga untuk menuju pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Demikian halnya dengan kegiatan di TPS (tempat pembuangan sampah sementara) di GCA. Pemilahan sampah organik dan komposting juga menemui babak baru dimana sampah organik menumpuk menunggu untuk dikomposkan setelah beberapa waktu terabaikan.

Tidak sampai dua pekan panen kompos sudah dua kali dengan volume yang menakjubkan 16 karung ukuran 50 kg (-/+ 500kg). Satu tumpuk kompos seharusnya dipanen satu pekan lebih awal, karena liburan sekolah maka panen dirapel 2 pekan kemudian).

Sebuah perkembangan baru, kali ini di TPS GCA kedatangan rombongan tamu pelajar dari SMU MUTHAHARI. Pada tanggal 30 July 2009 para pelajar yang dimotory guru-guru di ajak untuk lebih perduli dan mau melihat langsung bagaimana sampah di proses di TPS GCA. 200 orang siswa dan guru-guru meramaikan suasana komplek perumahan Griya Cempaka Arum yang biasanya sepi pengunjung....

Setelah kunjungan para pelajar SMU pada tanggal 11 agustus 2009 kembali Fokal kedatangan seorang tamu yang berkelas International, berkebangsaan Inggris, konsultan dari sebuah lembaga Lingkungan GLOBAL ENVIRONMENT FACILITY. ROB CRAIG di dampingi oleh beberapa perwakilan pemerintah kota dan salah seorang pemerhati lingkungan dari Jakarta. Rob Craig mensurvei dan banyak bertanya ; dari mulai ide, tekhnis dan non tekhnis sampai kepada biaya operational sehari-hari, termaksud seberapa besar perhatian dan dukungan pemerintah. Lunayan takjub Mr.craig mengetahui semua aktivis fokal adalah full volunteer di sandarkan dengan kegiatan yang sudah mampu mereduksi sampah sangat signifikan, sosialisasi, dan mendisiplinkan petugas.


ROB CRAIG DARI WORD BANK DAN ROMBONGAN


Tak lama berselang rombongan Mr.Craig meninggalkan GCA disusul kedatangan 3 orang (1 orang bapak dan 2 orang ibu) petugas dari pemerintah kota Cimahi dari Dinas Penyehatan Lingkungan dan Kebersihan (DPLK). Beliau-beliau ini sengaja diutus oleh pemerintah kota Cimahi untuk melakukan study perbandingan dengan kegitan di GCA. Rencananya tanggal 19 agustus 2009 yang akan datang akan membawa warga cimahi untuk sharing pengalaman dan bertukar ilmu serta pengalaman mengatasi persoalan persampahan kota.



dengan DPLK PEMKOT CIMAHI

Mudah-mudahan ini akan menjadi kebaikan bagi kita semua baik warga Bandung maupun Cimahi untuk menuju kepada perubahan radikal paradigma persampahan yang didukung oleh pemerintah kota baik lokal maupun interlokal. Ammin
Read More......

Minggu, 31 Mei 2009

Fokal ber "Car Free DAY"



Email on mei 24, 2009 containing invitation from Forum Hijau about event ‘Pencanangan Balad Kuring’ the readyness carried out in Ir.H.Juanda street ( Dago) migrat to Diponegoro street. Some tekhnis matter where the permit doesn't gove from police department for event in Ir.H.Juanda street.

The event covered

Theme covered is “ Car Free Day” is carried out in same time at 26 town and sub-province of West Java with center of event in Bandung. BALADKURING is overall West Java society movement, co-ordinated, and emerge from awareness to create the healthy and clean environment on an ongoing basis. Participation is education workshop management of garbage, there are six zona with different theme able to be selected :...

a) 3R Organik Zona
b) 3R pappers Zona
c) 3R Plastic Zona
d) 3R Anorganic besides Plastic Zona ( glass, B3, metal)
e) participate of society Zona
f) Friendly Environment Consumer Zona

Next will be network discuss Forum and problems Sharing also opinion, organize by Forum Hijau every 2 week. The day is monday. In June will starting at monday 8, 2009, in Aston Hotel ( Braga). This Event is opened generically not necessarily for registration. Just Come.

Our expectation something has and will done are give positive affect and also contribution for problems solving of environment and garbage in our region. Ammin

Indonesia

Email tertanggal 24 mei 2009 berisi undangan dari Forum Hijau untuk acara Pencanangan Balad Kuring yang sedianya diselenggarakan di jalan Ir.H.Juanda (Dago) berpindah penyelenggaraan di Jalan Diponegoro. Ada hal tekhnis dimana pihak kepolisian tidak memberikan izin untuk penyelenggaraan di Jalan Ir.H.Juanda.

Tema Acara tersebut adalah “Car Free Day” yang diselenggarakan serentak di 26 kota dan kabupaten se Jawa Barat dengan pusat acara diselenggarakan di Kota Bandung. BALADKURING adalah suatu gerakan masyarakat Jawa Barat yang bersifat menyeluruh, terkoordinasi, dan muncul dari kesadaran untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat secara berkelanjutan. Partisipasi adalah workshop edukatif pengelolaan sampah, terdapat enam zona dengan tema berbeda yang dapat dipilih, yaitu :

a) Zona 3R Organik
b) Zona 3R Kertas
c) Zona 3R Plastik
d) Zona 3R Anorganik selain Plastik (kaca, B3, logam)
e) Zona Partisipasi Masyarakat
f) Zona Konsumen Ramah Lingkungan

kemudian hari akan diselenggarakan rangkaian Forum Diskusi dan Sharing pendapat serta permasalahan yang diselenggarakan oleh Forum Hijau setiap 2 pekan 1 kali, dihari senin. Bulan Juni ini dimulai pada senin tanggal 8 tahun 2009, acara diselenggarakan di Hotel Aston (Braga). Acara ini dibuka untuk umum tidak perlu registrasi, tinggal datang saja.

Harapan kami semoga apa-apa yang telah dan akan dilakukan berdampak positif serta mampu memberikan kontribusi yang besar bagi permasalahan lingkungan dan persampahan di wilayah kita. Ammin
Read More......